Thursday, September 22, 2016
Allahu Ya Razzaq
"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami."
Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.
"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah.
Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA.
Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....
Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN!
"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."
Kami menahan napas.....
"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."
Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.
"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."
Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?
"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."
Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....
Apa rahasianya?
"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya.
Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.
Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan SYIRIK, atau MENDUAKAN ALLAH.
Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, ALLAH YANG KASIH REZEKI. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah.
〰〰〰〰〰
"Rejeki Itu Milik Allah"
Oleh: Leila Hana
Wednesday, September 21, 2016
Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur
Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur :
Ini semua anugerah Tuhanku, untuk mengujiku, apakah Aku akan bersyukur atau kufur atas NikmatNYA.
Ini semua anugerah Tuhanku, untuk mengujiku, apakah Aku akan bersyukur atau kufur atas NikmatNYA.
Thursday, September 1, 2016
Wednesday, August 31, 2016
Alhamdulillah
I create my history here
I create my life here
Allah really knows what I need
Surrounded by nice people and also good people
Thank u Allah
I create my life here
Allah really knows what I need
Surrounded by nice people and also good people
Thank u Allah
Monday, April 25, 2016
Yang pengen buat SURAT KETERANGAN BEBAS NARBOKA
Pagi ini tepatnya tgl 25/4/2016 karena kepentingan untuk membuat Surat Keterangan Bebas Narboka aku mulai searching dulu dimana tempat yg terdekat dan termurah buat pengurusan SKBN.
1.Di RS Al Mintoharjo Benhil karena RS in terdekat dengan lokasiku. Prosedurnya adalah :
-Registrasi Umum dlu di Gedung A untuk mendapatkan formulir terkait SKBN.
-Diarahkan ke Poli Terkait dengan membawa formulir, di sini dikenakan biaya Rp.100 rb lebih.
-Setelah dpt rujukan dari Poli akan diarahkan untuk ke laboratorium. Biaya Rp.200 rb lebih.
-Tunggu hasil dari lab kalau ga ngantri berdasarkan info sih 1 jam. Tapi kayanya bisa lebih deh.
-Hasil dari lab dikasih lagi ke Poli setelah itu kita bisa terima deh hasil cek SKBNnya dari Poli tersebut.
-Jadi total biaya Rp.300 rb lebih.
Kesimpulan: Kenapa harus melewati Poli dulu sih, sepertinya agar ribet memang prosedurnya. Coba kalau bisa langsung ke Laboratoriumnya aja tanpa melewati Poli untuk periksa SKBN biayapun bisa lebih ramping. Tapi setelah aku konfirmasi ke petugas ternyata memang tidak bisa.
2.BNN Cawang.
Tahun 2015 aku pernah buat SKBN di sini untuk kepentingan yang sama yaitu melamar pekerjaan. Hanya dikenakan biaya Rp.125 ribu untuk umum. Itupun hanya untuk membeli alat tes narkobanya yang bertempat di koperasi BNN langsung. Hanya menunggu satu jam setelah periksa urin. Hasilpun keluar.
Pagi ini tgl 25/4/2016, aku mencoba menghubungi call center BNN dengan no 02180880011 (sumber web bnn.go.id) Sebelumnya dapat isu kalau 2016 ini BNN tidak membuka untuk umum lagi dalam hal tes SKBN. Dan setelah aku hubungi ternyata memang tidak lagi. Sayang sekali BNN tidak melayani umum lagi hanya untuk internalnya saja. Petugas call center pun tidak mendapatkan info lebih lanjut hal ini berlaku sampai kapan.
Note: Buat jaga jaga tetap dibawa aja seperti pas photo, foto kopi ktp, dll. (buat jaga jaga aja ya)
Sekian infonya buat kamu yang sedang dalam urusan yang sama. Semoga bermanfaat. π
1.Di RS Al Mintoharjo Benhil karena RS in terdekat dengan lokasiku. Prosedurnya adalah :
-Registrasi Umum dlu di Gedung A untuk mendapatkan formulir terkait SKBN.
-Diarahkan ke Poli Terkait dengan membawa formulir, di sini dikenakan biaya Rp.100 rb lebih.
-Setelah dpt rujukan dari Poli akan diarahkan untuk ke laboratorium. Biaya Rp.200 rb lebih.
-Tunggu hasil dari lab kalau ga ngantri berdasarkan info sih 1 jam. Tapi kayanya bisa lebih deh.
-Hasil dari lab dikasih lagi ke Poli setelah itu kita bisa terima deh hasil cek SKBNnya dari Poli tersebut.
-Jadi total biaya Rp.300 rb lebih.
Kesimpulan: Kenapa harus melewati Poli dulu sih, sepertinya agar ribet memang prosedurnya. Coba kalau bisa langsung ke Laboratoriumnya aja tanpa melewati Poli untuk periksa SKBN biayapun bisa lebih ramping. Tapi setelah aku konfirmasi ke petugas ternyata memang tidak bisa.
2.BNN Cawang.
Tahun 2015 aku pernah buat SKBN di sini untuk kepentingan yang sama yaitu melamar pekerjaan. Hanya dikenakan biaya Rp.125 ribu untuk umum. Itupun hanya untuk membeli alat tes narkobanya yang bertempat di koperasi BNN langsung. Hanya menunggu satu jam setelah periksa urin. Hasilpun keluar.
Pagi ini tgl 25/4/2016, aku mencoba menghubungi call center BNN dengan no 02180880011 (sumber web bnn.go.id) Sebelumnya dapat isu kalau 2016 ini BNN tidak membuka untuk umum lagi dalam hal tes SKBN. Dan setelah aku hubungi ternyata memang tidak lagi. Sayang sekali BNN tidak melayani umum lagi hanya untuk internalnya saja. Petugas call center pun tidak mendapatkan info lebih lanjut hal ini berlaku sampai kapan.
Note: Buat jaga jaga tetap dibawa aja seperti pas photo, foto kopi ktp, dll. (buat jaga jaga aja ya)
Sekian infonya buat kamu yang sedang dalam urusan yang sama. Semoga bermanfaat. π
Wednesday, February 24, 2016
Sukses itu Apa Sih ?
Kesuksesan adalah salah satu hal yang diinginkan setiap orang. Setiap orang punya versi dan definisi yang berbeda untuk memaknai kesuksesan. Termasuk halnya saat aku sedang berdiskusi dengan adikku. Berikut percakapan kami. Semoga bermanfaat ?
"Dek
gw pengen coba apply ke sini, senior gw dia udah sukses lho dek
sekarang. Teh, sukses itu bukan dilihat dari orang lain, tapi menurut diri lu
sendiri. Lu liat orang sukses bisa beli rumah, jalan jalan kesana kemari
keliling Eropa ternyata pake uang korupsi. Itu yang dinamakan sukses? Lu liat
orang orang pake mobil termahal keluaran edisi terbaru, itu yang dinamain
sukses? Lu liat orang beli jam bermerek ternyata tagihan kartu kreditnya banyak
di mana mana dan dia dikejar kejar collection, karena ga bisa bayar, itu yang
dinamakan sukses?"
Sukses itu bukan dari yang dilihat
orang lain, tapi menurut dirilu sendiri.
1. Sukses
itu saat lu bisa mencukupi semua kebutuhanlu sendiri tanpa ada membebani orang
lain lagi termasuk keluarga.
2. Sukses
itu lu bisa enjoy dengan pekerjaan yang lu lakukan dan lu bisa nyaman dengan
pekerjaan yang lu lakukan tanpa adanya keterpaksaan.
Saat
lu bisa memenuhi semua kebutuhanlu sendiri dengan jerih payahlu sendiri dan lu
nyaman dengan pekerjaan yang lu lakukan itu yang dinamakan sukses teh. Bukan
ikut ikuttan dengan orang lain, bukan ikut ikuttan karena orang lain memilih
itu terus kita milih juga, eh ternyata pun kita dengan keterpaksaan melakukannya
dan membebani orang lain, itu ga sukses teh namanya.
Konsep
sukses yang sederhana tapi mendalam banget artinya, bisa la konsep ini menjadi alat ukur untuk mengetahui seberapa jauh hasil jerih payah kita dan seberapa suksesnya diri kita.
Hmmm... Daleeem.
Betul Ga?
Hmmm... Daleeem.
Betul Ga?
Subscribe to:
Posts (Atom)

