Monday, December 12, 2016

Kajian Bulanan Ust Yusuf Mansyur Sept

Al Ma'rij
Surah ke 70

Tafsir ayat per ayat

Dalam ayat pertama ada org org yg menantang azab Allah. Bisa jg yg bertanya adalah kita, bertanya ttg azab Allah kpn.

Misalnya ada wanita yg blm berhijab. Padahal jelas dalam ayat Allah wajib berhijab. Namun perlu diliat belum berhijab krn blm siap dan belum sempurna ilmunya tentang hijab. Ini bukan menantang. Tapi mmg blm siap.

Diberi telinga, kufur ga mau denger ayat ayat Allah. Jangan jadi sampai kufur nikmat.

Public speaking : how to train you. Ability to speak. Mnta aja ama Allah untuk dibenerin komunikasi kita ke manusia.
Kalau belajar tahsin maksudnya benerin komunikasi kita ke Allah.

Al Haqqah 17

Ghofir

Az zumar 75

Al mudatsir 7-8

Al Marij  10

Al Mudatdir 8-16
Jangan sampai kt kafir dlm hal aqidah dan amaliyah.

Az zumar 75

Fatir 1

Al Fajr 1-18
Demi Allah, Allah akan menyebut nm kt kl kt spesial.

Al Haqqah 34
Al Haqqah 30 31 32
An Naba 40
Al Haqqah 25-32
Al Fajr 17-22
Ya Allah izinkan agr km bs melihat wajahmu Ya Allah.

Al Fajr 24
Ini omongan kta, menyesal dengan kemaksiatan kemaksiatan (amanah kerjaan yg dilalaikan, amanah anak yg tidak berbakti kpd kedua org tua, dosa dosa lainnya)..

Al Fajr 27-30
Harapan kt kepada Allah


Mudah mudahhan kt menjadi hamba Allah yg takut. Mau mengaji, menggunakan mata utk hal hal yg Allah ridhoi *mengaji*, telinga, lisan kita...

#latepostSept016
#Istiqlal

Tausiyah Ust Yusuf Mansyur IIF

Where is your value?
Dunia hari ini butuh value. Your value is Islam.
My value is Islam.

Islam adalah uswah. Contoh yg paling baik.
Amerika mmg modern tp hati saya kering. Islam bisa masuk memenuhi hati hati yg kering itu.

Where is the value?
This world is unfair, no value.


=================================
Basher Arafat
=================================


Betapa persaudaraan itu penting?
Di dalam Al Quran pentingnya berjuang mengenalkan Islam.

Thaha 42
اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ  وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِى ۚ
Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;
[QS. Ta Ha: Ayat 42]

#latepost Oktober 2016
#International Islamic Fair
#JiExpo

2 12 2016


Allah lah yg menghimpun hati hati kita utk bisa berkumpul hari ini. Ribuan umat muslim kembali bersatu pada hari ini.
 "Aksi Bela Islam Jilid 3."

Allah kabulkan cita cita kta. Siapa yg gerakkan hati, langkah kaki kita hari ini? Menyatukan kita dalam berbagai payung yg berbeda? ALLAH!

Panas, hujan, tetap dihadapi bersama. Bahkan derasnya hujan saat melaksanakan sholat Jum'at tadi semoga sebagai bentuk ampunan dan rahmat Allah bagi kt semua. Bagi pemimpin bangsa ini, bagi negara ini dan bagi umat ini.

Subhanallah...Allahu Akbaru..sangat terharu bisa berada di dalamnya. Menyaksikan langsung zikir bersama, doa bersama bahkan sholat berjamaah. Allah turunkan hujannya semoga semakin bisa menambah keyakinan dan menambah kecintaan kt pada Allah, rasul dan kitab suci Nya.
Satu komando, satu tujuan. Berjuang untuk Allah. Apapun profesi, partai, ormas Islam..semua ada di sini. Demi tujuan yg satu.

Mengutip pernyataan Ust Bachtiar Nasir (Ketua Pelaksana GNPF-MUI).
"Musuh kita bukanlah kalian wahai saudara saudaraku yg beragama nasrani, katolik, budha ataupun hindu. Musuh kt adalah aktor aktor politik yg ingin memecah belah NKRI"


Ending doa hari ini. Semoga Allah turunkan hidayahMu buat para pemimpin kami. Dan juga untuk Pak Ahok..aamiin

#superdamai212
#latepost

Wednesday, November 30, 2016

Model Business Letter by L.Gartside

Hi Guys, Nice to share with you again.
Okay, now I will share some examples to write business letter.
Let's check it out. 



I. Letter with a short personal greeting


Dear Mr Ellis
I am sorry not to have replied sooner to your letter of 25th October about the book English and Commercial Correspondece, but my export director is away in the Lebanon and syria and for the past two months I hvae had to deal with this work as well as my own. My correspondece has fallen behind as a result. 


The question whether this book should be published in limp cloth or as a paperback is one i leave to my editorial director, who will no doubt be writing to you within the next day or two.
Kind regards and best wishes. I trust you are keeping well.


Yours sincerely



II. Letter with an extended personal greeting

Dear Mr Jenner 

I have now had an oppurtunity to read the book you sent me for review. It presents a concise and very clear account of the new import regulations, with good examples of how they are likely to be applied. 

I certainly think you should include the book in your recommended list for students preparing for your recommended list for students preparing for your examinations. 

I remember that you will be spending your approaching summer holiday in the south of France and wish you good weather and a throughly enjoyable time. 

Yours sincerely 






Thursday, September 22, 2016

Allahu Ya Razzaq


"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami."

Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.
"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!

"Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah.

Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA.
Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....
Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN!

"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."

Kami menahan napas.....

"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."

Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.

"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."

Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?

"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."

Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....

Apa rahasianya?
"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya.
Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.

Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan SYIRIK, atau MENDUAKAN ALLAH.
Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, ALLAH YANG KASIH REZEKI. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah.
〰〰〰〰〰

"Rejeki Itu Milik Allah"
Oleh: Leila Hana

Wednesday, September 21, 2016

Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur

Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur :

Ini semua anugerah Tuhanku, untuk mengujiku, apakah Aku akan bersyukur atau kufur atas NikmatNYA.

Thursday, September 1, 2016