Thursday, April 26, 2012

Galaunya versi “Mahasiswa Tahun Akhir”



Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, akan selalu ada yang namanya pergantian dan silih berganti, apakah itu pergantian dari siang ke malam, dari hujan ke panas, dari muda menjadi tua hingga dari mahasiswa baru menjadi mahasiswa akhir. Setiap tahunnya bagi universitas universitas besar yang selalu kebanjiran mahasiswa baru pastinya juga akan kebanjiran untuk mewisudakan mahasiswa lamanya yang akan menjadi sosok wisudawan atau wisudawati dan menyandang gelar sarjana dan biasanya dilakukan dalam rentang waktu yang berbeda beda. Sebuah gelar yang tentunya sangat diidam idamkan dan menjadi impian bagi sekelompok orang yang menyandang status sebagai mahasiswa. Secara sosial gelar ini membawa ke dalam sebuah prestasi dan kepuasan tersendiri, karena memang untuk mendapatkan gelar seperti ini butuh perjuangan yang tidak hanya sekedar namun ekstra agar bisa tercapai.
Ekstra, karena rata rata dari  universitas yang ada di kota Padang bahkan di seluruh Indonesia, salah satu  prasayarat untuk menyandang gelar sarjana dan lulus adalah harus menghasilkan sebuah karya ilmiah yang sering disebut skripsi atau tugas akhir. Sementara untuk membuat yang namanya tugas akhir tidaklah seperti copi paste dari blog atau hanya menyalin referensi ilmiah yang sudah ada, namun benar benar membuat sebuah karya berdasarkan metode metode ilmiah serta menerapkan konsep konsep hingga melakukan penelitian.  
Masa empat tahun menyandang status sebagai mahasiswa, merupakan masa masa tahun akhir  di mana pada masa ini mahasiswa akan disibukkan oleh yang namanya tugas akhir, namun tak jarang juga sudah ada yang memulai untuk menyusun di semester 6, ada yang memulai di semester 7, bahkan ada juga yang baru mulai di semester 9 atau 10, rentang waktu yang memang berbeda dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memang memilih mana yang dijadikan sebagai prioritasnya.
Banyak di antara mahasiswa tahun akhir dalam proses bimbingan yang terkadang berhenti  di tengah jalan. Idealnya sebuah skripsi itu bisa selesai dalam waktu tiga bulan jika intens pengerjaan dan bimbingannya, namun ternyata ada yang melebihi batas waktu tiga bulan bahkan ada yang mencapai satu tahun dalam pengerjaannya. Sungguh benar benar merupakan perjuangan yang menuntut banyak energi ekstra untuk melakukannya. Dimulai dari menunggu dosen pembimbing untuk bimbingan, bahkan ketika sudah membuat janji pun ternyata menunggu selama 2 minggu bahkan satu bulan karena kesibukan yang luar biasa yang dimiliki oleh dosen yang bersangkutan. Sebuah konsekuensi yang memang harus dijalani oleh mahasiswa jika mendapatkan dosen yang demikian, maka tak heran banyak yang menumpahkan air mata, pun ketika setelah keluar dari ruangan konsultasi bersama dosen pembimbing langsung merasakan lemas badan, wajah, tangan dan kaki seakan akan mendapatkan sentruman listrik yang tegangannya luar biasa yang efeknya bisa melemaskan saraf di seluruh badan, bahkan untuk jalanpun sempoyongan.
Ada lagi tipe mahasiswa yang biasa biasa saja, yang sebelum dan sesudah masuk dari ruangan konsultasi mengeskpresikan kedataran wajah alias bingung, karena si mahasiswa segan pada si dosen untuk bertanya dan sudah ciut nyali duluan jika terlalu banyak bertanya nanti kena semprot.
Ada lagi tipe mahasiswa bimbingan yang setelah keluar dari ruangan konsultasi bersama dosen pembimbing merasakan kepuasan tersendiri setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing karena merasa kebingungannya dalam menulis terobati ketika curhat dengan si dosen.
Yah begitulah lika liku dan karakter perjalanan yang ditempuh dan memang harus dilewati oleh mahasiswa yang ingin menuntaskan perjalanan akhirnya sebagai seorang mahasiswa. Bahkan dalam membuat tugas akhir ini tak jarang dari mahasiswa yang belum selesai perang sudah gugur di tengah jalan, mudah mudahhan kita tidak menjadi bagian yang gugur sebelum semuanya selesai, amin.
Sebuah kata bijak yang bisa dikaitkan di sini adalah berlelah lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah berjuang. Jadi anggaplah semua proses bimbingan yang dimulai dari awal mulai dari ditolaknya judul bahkan harus diganti dua puluh kalipun, kemudian dirombak dari pendahuluan hingga sistematika penelitian, serta harus menghadapai wejangan sakti dari dosen, maka “It’s OK”, itu adalah sebuah perjuangan untuk meraih manisnya status diri sebagai mahasiswa, mau kena pembentukan karakter diri oleh dosen sekalipun, mau hasil pemikiran karya kita ditolak, dan lain lainnya yang terpenting dari semua itu adalah kita mendapatkan arahan dan masukan terbaik dari dosen paling baik karena mau mencurahkan waktunya untuk perbaikan skripsi kita.
Selain itu kembali mengintropeksi diri sendiri apakah diri kita sudah sungguh sungguh dalam pengerjannya  karena Albert Einsten yang pintar sekalipun  dalam percobaannya untuk membuat lampu  pada percobaan ke seratus baru ia  mendapatkan pengakuan atas karya yang dia ciptakan, dan dia tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk menciptakan dan memperbaiki karya karyanya. Begitu juga dengan diri kita yang sedang disibukkan dalam proses pembuatan skripsi. Tidak ada manusia yang bodoh di dunia ini, yang ada hanya manusia yang malas berusaha, asalkan berusaha dan bisa mendisiplinkan diri untuk belajar teratur serta menambah kahasanah pengetahuan yang mendukung ke sana, maka insyallah bisa. Seorang sahabat pernah berkata otak manusia itu lebih canggih dibanding komputer. Jadi jangan mau kalah dengan komputer yang diciptakan oleh manusia, selama ini mungkin kita menggantungkan diri pada komputer tapi ternyata komputerlah yang bergantung pada manusia karena manusialah yang menciptakan komputer karena kecanggihan otak manusia itu tadi. Semakin diasah, dia semakin tajam dan canggih, semakin diajak untuk berfikir dan membaca maka ia semakin dirangsang untuk lebih menemukan ide ide baru. Semoga dengan tulisan sederhana ini bisa mengobati kegalauan versi mahasiswa tahun akhir  ^_^. Manjaddawajada.

Wednesday, April 25, 2012

Dua jalan menuju Pengetahuan


Dua jalan menuju Pengetahuan[1]
Hubungan Internasional sebagai bidang ilmu tersendiri lahir setelah Perang Dunia I. Dalam perkembangannya selama lebih dari ¾ abad ini, secara garis besar terdapat dua pendekatan akademis untuk mempelajarinya yaitu pendekatan tradisionalis dan pendekatan saintifik.
Pendekatan tradisionalis menurut Charles A. McClelland, pada waktu itu berkembang pendapat bahwa studi hubungan internasional menuntut kemampuan intelektusl yang begitu banyak sehingga hal ini hanya dimungkinkan dilakukan oleh mahasiswa pascasarjana yang matang dan betul betul terlatih. Terdapat beberapa alasan :
1.Seorang yang mempelajari studi hubungan internasional harus memiliki dasar pengetahuan yang kuat tentang sejarah berbagai negara serta pemahaman atas bahasa di berbagai negara tersebut agar bisa memahami gagasan dan perasaan suatu bangsa. 
 2. Untuk dapat memperolehnya maka harus memiliki pengalaman minimal menetap atau melakukan penelitian di negara tersebut. 
 3.  Pengetahuan yang mendalam hanya bisa didapat dalam ruang lingkup yang terbatas yaitu menelaah kasus kasus secara seksama dan mendalam, misalnya studi kasus politik luar negeri Indonesia di masa Demokrasi Terpimpin.
Ilmuwan yang menggunakan pendekatan (wisdom outlook) ini seperti Hans J Morgenthau, Henry Kisinger, atau Hedley Bull melakukan perenungan atas pengalaman pribadi dan studi sejarah untuk mendapatkan pengetahuan dalam studi hubungan internasional. Dan hasil studinya merupakan suatu “pemahaman” yang tidak sepenuhnya ‘intuitif’ tapi lebih merupakan pemberian makna umum pada suatu fakta khusus. Menurut pendekatan ini pengetahuan tentang hubungan internasional tidak bisa diperoleh dengan jalan pintas melainkan diperoleh dengan cara pengalaman praktis dan studi masa lalu agar pengetahuan tersebut bisa diterapkan ke fakta dan situasi masa kini.
Sementara pendekatan saintifik didasarkan pada keyakinan bahwa banyak hal baru dalam perilaku internasional yang perlu dipelajari dan bahwa bisa melakukan penemuan tentang arus interaksi yang terjadi dalam hubungan internasional dan ini merupakan yang esensi dalam studi hubungan internasional itu sendiri. Ilmuwan hanya bertugas menemukan pola pola pengulangan dan perilaku internasional untuk diramalkan tentang apa yang mungkin terjadi dalam hubungan internasional. Prosesnya hampir sama dengan meteorologi. Di mana ahli cuaca meramalkan keadaan cuaca di suatu tempat dengan menggunakan suatu alat dan bisa jadi ramalan cuaca benar bisa jadi tidak benar. Tapi yang terpenting proses ini tidak memberikan kepastian terhadap suatu fenomena melainkan hanya sebuah kemungkinan agar bisa sedia payung sebelum hujan. Dan ilmu ini akan selalu berkembang untuk memperbaiki kesalahan kesalahan dalam prediksi sebelumnya. Dan pendekatan saintifik juga serupa dengan yang dilakukan oleh ahli cuaca ini.
Pendekatan Saintifik dalam Ilmu Sosial
Pendekatan Saintifik dalam Ilmu Sosial merupakan suatu metode analisa yang objektif, logis, sistematis untuk mendeskripsikan, menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena yang bisa diamati. Berdasarkan definisi ini dapat diketahui bahwa ciri ciri utama sains yaitu :
       1. Sains : suatu metode analisa, bukan suatu kumpulan pengetahuan. Sains merupakan suatu aktifitas, proses dan bisa dibedakan dengan hasilnya.
          2. Tujuan akhir sains adalah deksripsi, eksplanasi, prediksi. 
                3.    Fenomena yang bisa diamati
       4.Bersifat obejktif, logis dan sistematis




                [1] Mohtar Mas’oed. Ilmu Hubungan Internaional : Disiplin dan Metodologi

Tuesday, April 24, 2012

Dari mereka yang berpengalaman


Pelayanan rumah sakit yang dilakukan oleh  salah seorang perawat  rumah sakit umum di kota Padang sangatlah  tidak memuaskan dan menyenangkan hati pelanggan. Seorang pasien yang dirawat di ruangan flamboyan embun pagi dibuka selang infusnya karena ketika pergi ke kamar mandi infus tersebut menyumbarkan darah dari lengan si pasien, kemudian perawat jaga siang di sana bermaksud membukanya untuk membersihkan darah yang berceceran keluar dari selang infus, kemudian si perawat memakaikannya kembali ke lengan si pasien, tapi ternyata si perawat  mungkn  belum ahli betul memasang selang infus, jarum tersebut menyembur entah ke mana, tidak pas pemasangan selang infus dari jarumnya terpaksalah karena si pasien merasa kesakitan, atas permintaan sementara selang infus yang ada jarum tersebut dibuka dan tidak dipasang lagi. Semenjak dibukanya selang infus dari tubuh si pasien dari jam 15.00 hingga magrib, si pasien mulai merasakan pusing pusing di kepalanya, sudah diadukan kepada perawat jaga untuk segera memasangkannya kembali dengan baik, namuan respon tak kunjung datang, alasan perawat yang jaga malam tersebut adalah karena pasien baru pindah dan untuk memasukkan selang infus  harus mendapatkan persetujuan dokter yang jaga juga, kemudian sekitar pukul 20.00 keluhan dari keluarga si pasien diadukan kembali untuk segera memasang selang infus  kepada perawat jaga, tapi ternyata ketika ditanyakan baik baik oleh keluarga si pasien, respon perawat malah tidak menyenangkan, jawaban yang sangat ketus dilontarkan, bahkan terkesan kasar dan marah marah, bukannya mendapatkan ketenangan dari si perawat, malah menambah kesakitan tersendiri untuk segi psikologis si pasien.
Apa ini yang namanya pelayanan dari  rumah  sakit ? Bukankah moto yang terpampang di sana adalah “kepuasan anda adalah kepuasan bagi kami”.  Jika perilaku dan pelayanan perawat rumah sakit ketus dan tidak menyenangkan seperti di atas, apa bisa memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi para pasien?  Ditambah dengan harus mengikuti prosedur prosedur yang rumit seperti di atas, analogi sederhananya seperti ini, ketika ada yang sekarat, namun karena harus mengikuti prosedur menunggu ini dan itu, apakah jiwa yang sekarat yang seharusnya mendapatkan pertolongan lebih awal dan lebih cepat itu harus menjadi korban? Ini yang tidak didahulukan dan didapatkan dari pelayanan rumah sakit umum tersebut. Belum lagi ketika ada pasien yang berobat atau masuk rumah sakit dengan menggunakan kartu Askes, Jamkesmas atau apapun namanya selalu dijadikan pasien kesekian untuk dilayani. Sementara pasien yang berobat secara umum mendapatkan pelayanan yang pertama. Pengkotak kotakkan seperti ini jelas tidak berperikemanusiaan karena setiap orang yang datang ke rumah sakit menggunakan apapun dia berhak mendapatkan pertolongan dan pelayanan kesehatan. Toh yang menggunakan kartu Askes dan Jamkesmaspun juga dibayar kan?
“terinspirasi dari keluhan sebagian masyarakat”



Friday, March 23, 2012

Manfaat yang terasa ketika ia telah tiada


Bismillah..
Ketika terasa sakit baru terasa bahwa sungguh nikmat sehat itu berharga
Ketika diri sehat, tubuh kuat, bisa melakukan hal bermanfaat apapun yang diinginkan, tetapi ketika sudah sakit, untuk dudukpun musti dibantu, untuk berdiripun musti dipapah, bahkan untuk menulis saja pun susah, baru mau menulis sudah timbul sedikit pusing di kepala karena kondisi badan yang mengharuskan untuk berbaring.
Seorang kakek tua, dalam hidupnya hanya diisi oleh kebiasaan yang tidak lain hanya untuk menyemangati dirinya sendirinya. Kakinya tak lagi bisa diajak untuk berjalan ke sana kemari, jangankan untuk berjalan jauh dan berputar putar untuk jalan santai saja, harus menahan sakit yang luar biasa, sholatpun harus duduk, bahkan ketika musti berada di luar rumah dan sudah masuk waktu azan, ia hanya bisa melakukan sholat di rumah atau sholat duduk, tak mau sholat di masjid karena kondisinya yang tak memungkinkan untuk sholat di sana. Alhasil sering melakukan sholat jamak karena alasan kondisinya. Sementara kita yang sudah diberi segala kecukupan terkadang masih melalaikan segala sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan semaksimal mungkin. Kaki yang masih bisa berjalan jauh berkilo kilo meter, jiwa yang senantiasa selalu berkobar untuk terus menegakkan perjuangan, hati yang senantiasa memberikan penerangan, pikiran yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran yang jernih, mulut yang bisa beretorika layaknya seorang pemimpin untuk menuntut keadilan, dan tangan yang senantiasa bisa membantu orang orang yang membutuhkan bantuan. Tapi ternyata kesemuanya ini terkadang tak bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Malu kita pada mereka yang tak diberi kesempurnaan tapi berusaha untuk menjadi orang orang yang sempurna yaitu berusaha untuk bisa menjadi layaknya orang orang normal lainnya yang mampu memberikan kontribusi positif bagi yang lain. Mereka sebagian yang telinganya tak mampu mendengar dengan maksimal mampu menghasilkan buah karya untuk dijadikan sebagai pernak pernik bangsa ini, mereka sebagian yang tak mampu berbicara dengan lurus mampu membuat busana indah yang bisa dipakai oleh siapa saja.
Subhanallah..jadikanlah hambaMu ini, hamba yang bisa bersyukur dalam menggunakan seluruh ciptaan yang telah engkau berikan kepada kami, tubuh yang ketika sehat bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, mata yang bisa melihat bisa dimanfaatkan sebaik  mungkin bagaimana kalau mata ini direnggut dan diambil kembali sehingga kita tak bisa melihat keindahan ciptanNya lagi. Mulut ini, telinga ini, tangan dan kaki ini, karena semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Bandingkan dengan mereka yang luar biasa


Ketika dirimu lemah untuk mencari ilmu dan belajar bandingkan dirimu dengan mereka yang musti menempuh jarak dari Ulak Karang menuju kampus  setiap harinya hanya untuk menebar ilmu.
Ketika dirimu lemah untuk berazam dalam mencari ilmu bandingkan dirimu dengan mereka yang  musti menempuh jarak  dari Bungus  menuju kampus  hanya untuk memberikan ilmunya kepadamu.
Ketika dirimu lemah dalam mengerjakan tugas bandingkan dirimu dengan mereka yang  musti pulang pergi dari pagi hingga sore dari perbatasan Padang Pariaman  menuju  kampus  dengan menaiki angkot hanya untuk memberi pengetahuan yang baru kepada mahasiswanya melalui tugas yang diberikannya.
Ketika dirimu lemah dan mengeluh bahwa rumahmu yang paling jauh bandingkan dengan mereka  yang musti menempuh perjalanan dari Batu Sangkar  menuju kampus. Enam jam waktu pulang pergi setiap hari yang harus ditempuh. Belum lagi tuntutan yang harus dikerjakan ketika sampai dirumah yaitu mengasuh anak anak dan istri serta membaca lembaran kerja mahasiswanya.
Sementara diri kita, paling waktu yang kita tempuh maksimal untuk menuju kampus maksimal 1 jam perjalanan dan pulang balik sebanyak 2 jam. Apalagi bagi yang sudah difasilitasi oleh orang tuanya dengan kendaraan. Pantaskah kita selalu mengeluh menghadapi semua persoalan akademik yang ada di kampus? Dan menyalahkan mereka yang sudah mau memberi ilmunya?
Perjuangan mereka untuk memberikan ilmu kepada mahasiswa tak kenal lelah, bahkan walau harus menempuh jarak sejauh itu. Namun terkadang kita para mahasiswa hanya melihat yang tampaknya saja, hanya melihat bahwa diri kitalah mahasiswa yang paling menderita karena paling jauh rumahnya, sehingga tak punya banyak waktu untuk mengerjakan tugas yang diberi oleh dosen, paling sibuk mengurusi urusan keluarga, dll, terlebih lagi jika menganggap tugas yang diberi dosen adalah beban bagi mahasiswanya. Dan alhasil tugas itupun tak dikerjakan yang ada hanya kerta kosong tanpa isi. Ketika akan menerima nilai akhir kitapun protes kenapa kok nilai seperti ini? Dan yang tersalahkan adalah dosen pelit dan tidak murah hati dalam memberi nilai. Padahal kalau menginstropeksi diri sendiri dan mengkritisi diri terlebih dahulu sebelum mengkritisi yang lain jauh lebih mudah menemukan solusinya untuk permasalahan ini.
That’s All. Thank you very much for my lecturers.  

Tuesday, March 20, 2012

Jangan tanya apa yang sudah mereka perbuat tapi tanyalah diri sendiri


5 Desember 2011

Ketika membaca sebuah tabloid kampus aku membolak balik halaman demi halaman mencari sebuah atau beberapa artikel yang menurutku menarik..yang menarik perhatianku adalah beberapa artikel yang ditulis oleh mahasiswa Fisip Jurusan Hubungan Internasional Haris dan Farsiha adik juniroku di Hi, aku bangga mereka bisa mencurahkan aspirasi tulisan mereka melalui tulisan dan pemikiran dan bisa dilihat oleh banyak orang, terlepas dari apa penilaian orang orang terhadap apa yang mereka tulis namun aku bangga mereka bisa membuat tulisan karena keberanian dan mental kuat yang ada pada diri mereka, satu hal yang membuat aku masih terinspirasi adalah tulisan yang dibuat oleh farsiha yang berjudul FISIP TIDAK BUTUH KALIAN, dari judulnya aku langsung menebak pasti ini tentang tidak butuhnya FISIP dengan BEM KM UNAND dan menyatakan kalau fakultas FISIP bisa berdiri sendiri tanpa bergabung dengan BEM KM UNAND, karena kondisi di FISIP memang seperti itu dari dulu bahkan hingga kini, namun setelah dibaca ternyata isinya bukan seperti yang aku persepsikan, isinya melainkan sebuah semangat dan motivasi untuk menoreh sesuatu dan merancang apa yang bisa kita kontribusi   untuk FISIP melalui  UKM UKM yang ada di di dalamnya, kata katanya seperti ini. "Jangan tanya apa yang sudah Jurusan Hi lakukan untuk membaguskan nama HI UNAND, jangan tanya apa yang telah UKM fakultas lakukan sehingga ia bisa dikenal oleh luar UNAND, tapi tanyalah pada diri kalian sendiri apa yang akan kalian kontribusikan untuk UNAND, FISIP, Hubungan Internasional bahkan UKM yang akan kita masuki sekalipun, karena bukan karena jurusan itu baguslah  kalian bisa dikenang tapi karena kontribusi bermakna yang bisa kalian beri sehingga identitas diri,bahkan lembaga kalian bisa dikenal. Subhanallah, adik ini bisa memberi motivasi yang begitu berharga dan membakar semangat, meski kata kata yang digunakan sedikit pedes tapi aku tahu maksudnya, aku bisa menilai ia adalah orang yang kritis dan punya kemauan serta prinsip untuk membangun dan melakukan perbaikan, bukan karena lembaga inilah kita bisa menjadi terkenal tapi karena kontribusi yang kita lakukan terhadap lembaga tersebut sehingga, diri kita bahkan lambaga itu bisa dikenal oleh orang banyak dan memberi manfaat.
Sederhana yaitu sejarah seperti apa yang akan kita bangun di dalam komunitas, lembaga, fakultas bahkan universitas dan lain sebagainya, kalau hanya ingin mendapat nama itu bisa dilakukan dengan mendaftarkan diri pada sebuah lembaga tertentu dan lakukan kehadiran 1 kali dalam 3 bulan dan tidak mengikuti agenda agenda yang ada, namun secara ideal itu tidaklah baik justru akan membuat lembaga itu akan rugi dan merugikan orang banyak bahkan diri sendiri, duduk di dalam sebuah lembaga tertinggi di dalam pemerintahan bukanlah sebuah perkara biasa namun sebuah perkara luar biasa yang benar benar menuntut pengetahuan dan kontribusi kita di dalamnya sehingga memang jelas orientasinya yang akan dilakukan ketika kita sudah ada pengetahuan, untuk merencanakan mau dibawa kemana lembaga ini. Semoga kedepannya akan lahir generasi generasi yang memang jelas orientasi kelembagaan, orientasi diri untuk memajukan negara ini, lewat kampuslah kita belajar, lewat organisasilah kita belajar langsung dengan prakteknya dan mengaplikasikan secara langsung bahwa ternyata mudah teorinya tapi belum tentu mudah aplikasi. Tapi selagi masih bisa, cobalah lakukan perbaikan, terlebih kita tidak sendiri, ada orang orang yang senantiasa selalu mendoakan kerja kerja kita agar bisa efektif dan amanah, ada orang orang yang memberikan bimbingannya untuk perbaikan terhadap apa yang kita lakukan. Dan merekapun secara tidak langsung memberi pengarahan pada diri kita untuk berbuat dan terus melangkah maju seperti yang ada di atas. Hidup Mahasiswa..!

I Believe

I Believe Lyrics

featuring Maher Zain
IRFAN MAKKI
When you’re searching for the light
And you see no hope in sight
Be sure and have no doubt
He’s always close to you

He’s the one who knows you best
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him

You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day


Chorus:
I believe
I believe
Do you believe, oh do you believe?

MAHER ZAIN
Coz I believe
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings

You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day

Chorus
If you lose your way
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through

I believe I believe, I believe I believe
And now I feel my heart is at peace

Chorus
I believe I believe, I believe I believe
Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki
Melody: Irfan Makki & Maher Zain
Arrangement: Maher Zain



 http://www.islamiclyrics.net/irfan-makki/i-believe/ diakses tanggal 18 Februari 2012